Telah ku temukan yang aku impikan
Kamu yang sempurna
Segala kekurangan semua kelemahan
Kau jadikan cinta
Tanpamu ku tak bisa berjalan
Mencari cinta sejati tak ku
temukan
Darimu aku bisa merasakan
Kesungguhan hati cinta yang sejati
Kamu dikirim tuhan untuk
melengkapiku
Tuk jaga hatiku
Kamu hasrat terindah untuk cintaku
Takkan cemas ku percaya kamu
Karena kau jaga tulus cintamu
Ternyata kamu yang kutunggu
Segala kekurangan semua kelemahan
Kau jadikan cinta
Karena kau jaga tulus cintamu
Ternyata.. ternyata ooh
Ternyata... ooh ternyata
Ternyata kamu yang kutunggu
(Coretan pendek)
Malam hari ini indah, seindah suasana
hatiku yang begitu berdebar karena ini adalah pertama kalinya kita keluar
berdua. Entah aku harus bagaimana. Aku begitu ribut dengan apa yang akan aku
pakai. Sungguh sial, karena aku tak membawa baju banyak kesini. Terlalu sedikit
pilihan ini. Ah sudahlah aku pun putuskan pakai apaun yang ada, berharap kamu
menyukainya, berharap kamu tak akan permasalahkannya, berharap kamu tak
melihatku hanya dari penampilan dan style
ku, berharap kamu kan menyukai segala yang ada pada diriku. Tanpa ku sadari
ternyata aku melakukan hal diluar kendaliku, kenapa harus aku pikirkan itu,
kenapa?.
“Sadarlah!! kamu hanya berteman
dengannya.”
Dan kamu sampai didepan, entah kenapa
juga aku tersenyum lebar padamu, entah kenapa hatiku berdebar kencang, entah
kenapa aku merasa senang. Pertanyaan itu masih menjadi misteri untukku saat itu
namun aku mencoba melakukannya senormal mungkin. Agar kamu tak tahu apa yang
sedang bergejolak di dalam hati ini. Berbicara normal, tersenyum normal, tertawa
normal. Namun apakah ini semacam pertahanan diriku yang inginkan kamu namun
terlalu gengsi untuk mengakuinya. Atau ini semacam sikap pencitraan di depanmu.
Ah entahlah aku pun tak sempat memikirkaannya ketika itu karena begitu terpana
melihatmu dan entah kenapa kita begitu bergairah bercerita satu sama lain. Tak pedulikan
orang disekitar kita yang mulai beranjak dari tempat duduknya, atau mereka yang
baru saja datang, atau pula mereka yang mondar-mandir mengantarkan makanan. Hingga
tanpa sadar waktu berlalu, malam semakin larut.
Kamu pun memberikan sebuah video, yang
saat itu kamu katakana jika itu video selamat atas kelulusanku. Sepertinya kamu
mempersiapkannya dengan baik, kamu bahkan memberikan earphone untuk membantuku mendengar jika melihatnya. Aku yang
ketika itubertingkah bodoh, Tuhan apakah aku bisa kembali ke saat itu, saat
dimana kamu pertama kali menunjukkan video itu. sepertinya itu masih menjadi
penyesalanku hingga saat ini.
Respon pertama yang aku ucapka sangat
sangat dan sangat tidak entahlah tidak menunjukkan jika aku seoorang perempuan
manis yang sangat berterima kasih. Dan malah melontarkan pertanyaan yang
mungkin terucap antara seorang laki-laki dan temannya.
“Kamu bikin pakai movie maker?”
Sepertinya seisi tempat makan itu
menertawakanku, bahkan semut yang sedang berbaris berjalan melewati kita
berdua, seperti barisan anak SMA memakai baju merah pun ikut tertawa sesaat
setelah kata itu muncul dari multku.
Ahh.. ingin aku tarik kembali
kata-kata itu, ingin kuganti dengan,
“Wah.. bagus banget.”
Sepertinya itu cukup. Atau supaya
terkesan seperti perempuan manis begini,
“Terimakasih kamu sudah meluangkan
waktu untuk membuat video ini, bagus banget, ini pertama kalinya aku dapat vidio
dan rasanya menyenangkan”
Namun semua angan itu tak terjadi, yang
lebih parah aku tak seberapa memperhatikan kata-kata yang kamu tuliskan di
vidio itu malah mengajakmu ngobrol lagi. Akibatnya setelah selama 4 menit 31
detik vidio itu diputar yang terucap hanya kata terimakasih dan pujian untuk vidio
bagus buatanmu. Aku tak membaca maksut niat darimu. Dan itu hanya berlalu
begitu saja.
Malam itu tak berakhir disitu. Kamu ajak
aku ketempat lain untuk sekedar minum. Wajahmu yang terlihat menagih jawaban
padaku terus bertanya tentang banyak hal dan menjawab banyak akan pertanyaanku.
Aku yang tak tahu akan hal itu dengan wajah bodohku sesekali tersenyum karena
candamu.
Pukul 10:00 PM
“Sepertinya aku harus pulang.”
Wajahmu terlihat tidak puas dan terus
berusaha menagih jawaban dariku dengan berkata,
“Oke, nanti lihat lagi ya vidio tadi”
Begitu bodohnya diriku ini. Sampai kapan
akan terus aku pelihara.
Saling pandang, saling tersenyum,
saling ucapkan selamat tinggal, karena kita tidak tahu kapan nanti akan bertemu
lagi. Kami berasal dari kota yang berbeda. Dan sekarang aku sedang kembali ke
kota dimana tempat aku belajar untuk diwisuda. Setelah ini tentu saja aku akan
pulang. Dan dia, lelaki yang telah memikat hatiku adalah teman dari temanku
namun aku sudah berteman dengannya sebelum tahu dia teman SMA dari teman satu
jurusanku. Yah dia tinggal di kota itu.
Akhirnya malam itu benar-benar
berakhir. Oh tidak, sesampainya ditempat temanku aku pun melihat kembali
vidionya. Setelah terpana dengan sang pemberi vidio, aku pun terpana dengan
vidio yang diberinya. Ternyata itu ungkapan perasaannya untukku.
Sekali lagi, begitu bodoh dan tidak
pekanya diriku ini.
Mungkin ini karena aku telah lama
sendiri. Sekitar lima tahun aku tak merasakan cinta. Setelah hatiku hancur
karena seorang lelaki. Terlalu sulit untukku membuka hati lagi untuk orang
baru. Rasanya sudah lelah jika harus terluka, menderita lagi untuk makhluk yang
bahkan aku tak tahu apakah dia benar-benar mencintaiku sekarang dan nanti.
Dan sepertinya tanpa kusadari aku
telah membuka hatiku untuk kamu. Aku tak tahu apa yang telah kamu lakukan untuk
meluluhkan dinding besar pertahananku. Karena sejenak tadi ketika bersamamu aku
merasakan kebahagiaan. Seakan aku mampu melihat kesungguhan hatimu yang tulus
memberikan hatimu untukku. Dan itu tak pernah aku merasakan sebelumnya. Kamu nampak
sempurna dimataku. Segala kekurangan dan kelemahan pada diriku seakan tak
pedulikanmu. Kamu tahu diriku ini penuh dengan kekurangan, wajah yang biasa
saja, otak yang pas-pasan, dan belum lagi sifatku yang menyebalkan. Akankah kamu
mau menerima apa adanya diriku ini?.
Apa mungkin telah aku temukan cinta
sejatiku, yang aku impikan selama ini, jawaban dari doa-doa yang selalu ku
panjatkan seusai beribadah mengingat sang pencipta.
Aku pun minta maaf karena tak melihat
vidio ungkapan perasaanmu seakan aku mengacuhkannya, tak peduli, dan bahkan terkesan
aku pura-pura bodoh. Tidak , tedak pernah aku melakukannya, ini adalah satu dari
sekian kekuranganku, kebodohanku.
Aku tak bisa tidur memikirkannya. Namum
malam berlalu hingga pukul 3:00 AM, dini haru mataku baru bisa terpejam. Aku bangun
bahagia.
Keesokan harinya, di siang menjelang
sore hari tepat pada hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tercinta 17
Agustus kita bertemu, udara ketika itu sangat segar entah karena suasana hati
yang segar.
Kita agak kaku, mungkin karena vidio
itu. Namun tetap kucoba untuk senormal mungkin. Belum juga kita lama ngobrol
setelah makan kamu langsung saja menagih jawaban, aku melihatmu sepertinya kamu
begitu penasaran. Dan setelah lama aku memberanikan diri akhirnya aku katakan,
“Iya.”
Sejenak kamu mengajakku pergi dari
tempat itu, padahal sebelumnya kamu tak mau beranjak sebelum aku menjawabnya. Sungguh
sangat aneh tingkahmu membuatku tersenyum.
Sekian hari berlalu, minggu berganti
minggu. Semakin aku merasakan tulus cintamu, kesungguhan hatimu, akankah ini
kan jadi cinta sejatiku?. Sepertinya aku masih kan harus menunggu jawaban dari
Tuhan.
Bersambung..

No comments:
Post a Comment